Industri Operasi Plastik Korea Terungkap, 50 Pasien Meninggal Sejak 2016

Korea Selatan dikenal sebagai salah satu pusat industri operasi plastik terkemuka di dunia, menciptakan banyak tren baru dalam dunia kecantikan. Namun, di balik popularitas dan kesuksesan itu, tersimpan sejumlah risiko yang berpotensi merenggut nyawa.

Data terkini menunjukkan meningkatnya angka kematian akibat prosedur bedah kosmetik di negara ini. Menurut analisis dari lembaga forensik pemerintah Korea Selatan, sebanyak 50 orang meninggal dunia saat menjalani operasi plastik dalam rentang waktu 2016 hingga 2024.

Total kematian tersebut mencakup 41 perempuan dan 9 laki-laki. Hal ini memberi gambaran bahwa masalah ini tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu, melainkan meluas ke berbagai lapisan masyarakat.

Satu fakta mencolok adalah bahwa jumlah kematian akibat operasi plastik mengalami tren negatif setiap tahun. Rata-rata kematian mencapai 5,6 kasus per tahun, dengan grafik kematian yang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, termasuk 4 kasus pada tahun 2016 dan melonjak menjadi 13 kasus pada tahun 2024.

Kota metropolitan Seoul menjadi lokasi dengan paling banyak laporan kematian, di mana sekitar 64% insiden tersebut terjadi. Di pihak lain, sekitar 28% dari para korban adalah warga negara asing yang datang untuk menjalani prosedur operasi plastik.

Analisis Usia dan Jenis Kelamin Pasien yang Meninggal

Dari segi demografi, pasien perempuan yang meninggal memiliki rentang usia antara 19 hingga 82 tahun, dengan rata-rata umur 29 tahun. Di sisi lain, pasien laki-laki berusia 29 hingga 69 tahun, dengan rata-rata usia 50 tahun.

Penelitian menunjukkan bahwa hampir setengah dari kematian ini disebabkan oleh anestesi, yakni sebanyak 23 kasus. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya peran anestesi dalam keberhasilan prosedur bedah kosmetik.

Sebanyak 16 kematian lainnya disebabkan oleh komplikasi operasi, sedangkan 2 kasus berhubungan dengan syok anafilaksis dan 6 kasus terkait dengan penyakit bawaan pasien. Komplikasi medis ini menjadi indikasi bahwa risiko tetap ada meskipun prosedur dilakukan oleh profesional.

Jenis prosedur yang paling banyak dikaitkan dengan kematian adalah operasi wajah dan leher, dengan 26 kasus. Diikuti oleh prosedur liposuction yang tercatat mengakibatkan 11 kasus kematian.

Pasien yang menjalani operasi wajah dan leher sangat rentan mengalami kematian yang diakibatkan oleh anestesi, sedangkan liposuction lebih sering memicu komplikasi medis lain yang fatal. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian ekstra dalam memilih jenis prosedur yang ingin dilakukan.

Perbandingan Risiko Berdasarkan Fasilitas Medis

Studi juga menemukan bahwa terdapat hubungan erat antara tingkat kematian dan skala fasilitas medis tempat operasi dilakukan. Klinik kecil dengan kapasitas kurang dari 30 tempat tidur menyumbang 22 kasus kematian akibat anestesi.

Kebalikannya, rumah sakit universitas hanya mencatat satu kasus serupa. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas yang lebih besar dan lebih lengkap memiliki standar keselamatan yang lebih baik.

Penting untuk dicatat bahwa hanya enam dari kasus kematian tersebut melibatkan dokter anestesi yang bersertifikat. Ini menandakan bahwa banyaknya prosedur dilakukan tanpa pengawasan yang layak.

Peneliti menekankan bahwa standar keselamatan dalam operasi plastik seharusnya sejajar dengan prosedur medis besar lainnya, termasuk kesiapan untuk menangani darurat. Keselamatan pasien seharusnya menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan medis.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa jumlah kematian yang sesungguhnya mungkin lebih tinggi, sebab data yang dianalisis hanya mencakup kasus yang menjalani autopsi resmi. Ini menjadi tantangan dalam menilai secara akurat risiko yang dihadapi pasien.

Impikasi Dan Masa Depan Industri Operasi Plastik di Korea Selatan

Meskipun diwarnai risiko yang signifikan, industri operasi plastik Korea Selatan tetap menjadi yang terbesar di dunia. Menurut data dari organisasi internasional, Korea memiliki tingkat operasi estetika tertinggi secara global, dengan 8,9 prosedur per 1.000 penduduk.

Nilai total industri ini diperkirakan melebihi US$10 miliar, atau setara dengan sekitar Rp160 triliun. Pemerintah Metropolitan Seoul mencatat hampir satu juta warga asing datang ke kota tersebut untuk menerima perawatan medis.

Dalam konteks ini, 64,2% dari total pengeluaran medis dialokasikan untuk prosedur kosmetik. Artinya, ada permintaan yang terus meningkat untuk layanan ini, meskipun risikonya jelas ada.

Masyarakat dan pasien harus lebih sadar akan risiko yang mengintai di balik prosedur kecantikan ini. Sikap berhati-hati dan informasi yang transparan menjadi esensial agar pasien dapat membuat keputusan yang lebih baik.

Ketika memilih untuk menjalani prosedur kecantikan, penting untuk mengevaluasi semua opsi serta berkonsultasi dengan profesional terpercaya. Ini akan membantu meminimalisir risiko dan memastikan keselamatan pasien tetap terjaga.

Related posts